Feeds:
Pos
Komentar

“EKOLOGI LAUT TROPIS”

A

  • Abiotik : segala komponen tidak hidup pada suatu ekosistem
  • Adaptasi : bentuk penyesuaian diri makhluk hidup terhadap lingkungannya, baik secara morfologi, fisiologi, kultural maupun tingkah laku.
  • Anorganik : materi tidak organik, tidak berasal dari alam (sintesis)
  • Atmospheric input : Masuknya nutrien dari atmosfer melalui proses hujan ataupun angin  yang membawa berbagai nutrien dari penguapan yang terjadi.

B

  • Biological Nitrogen Fixation : fiksasi biologis nitrogen (BNF) terjadi ketika atmosfer nitrogen diubah menjadi amonia oleh enzim
  • Biotik : segala komponen hidup pada suatu ekosistem

C

  • Charles Elton : ilmuwan Inggris yang mengembangkan konsep relung th 1927
  • Coastal Resources Management : Pengelolaan sumber daya pesisir.
  • Coastal Zone Management : Pengelolaan wilayah pesisir.
  • Coastal Zone Resources Management : Pengelolaan sumber daya wilayah  pesisir

D

  • Denitrifikasi : Suatu  nitrat direduksi sehingga terbentuk nitrit dan akhirnya menjadi amoniak yang tidak dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan.
  • Detritus : pengurai, organisme seperti bakteri dan mikroorganisme lainnya yang berperan dalam menguraikan materi makhluk hidup yang telah mati.

E

  • Ekologi : ilmu yang mempelajari tentang ekosistem
  • Ekologi bahari : Ilmu yang mempelajari pola hubungan antar jasad hidup dan tak hidup pada suatu ekosistem laut dan pesisir
  • Ekosistem : Merupakan interaksi antara komponen biotik dan abiotik yang menyatu menjadi sebuah sistem. Contohnya adalah ekosistem padang lamun.
  • Emigration and Harvesting : Proses perpindahan nutrien atau keluarnya nutrient dari suatu ekosistem ke luar dari ekosistem tersebut.
  • Energi : ukuran dari kesanggupan benda tersebut untuk melakukan suatu usaha. Satuan energi adalah joule. Energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan.
  • Estuaria : perairan semi tertutup yang berhubungan bebas dengan laut, sehingga air laut dengan salinitas yang tinggi dapat bercampur dengan air tawar
  • Evolusi : Perubahan sifat jenis secara perlahan-lahan dalam waktu yang lama

F

  • Fotosintesis : Suatu proses biokimia yang dilakukan tumbuhan untuk memproduksi energi terpakai (nutrisi) dengan memanfaatkan energi cahaya.
  • Feeding ground : Daerah untuk mencari makan bagi suatu organisme.
  • Fishing ground : Daerah tempat dimana tempat tersebut terdapat banyak ikan, tempat memancing atau mencari ikan.

G

  • Gasseous losses : Suatu proses pembuangan suatu nutrien berupa gas – gas yang keluar dari suatu ekosistem.

H

  • Habitat : tempat hidup bagi  makhluk hidup

I

  • Immigration : Perpindahan suatu nutrient dari ekosistem terkait ke luar dari ekosistem tersebut atau ekositem lainnya.
  • Individu : Merupakan satuan organisme tunggal.
  • Integrated Coastal Zone Management (ICZM) : Pengelolaan terpadu wilayah pesisir.
  • Integrated Coastal Zone Planning and Management : Pengelolaan dan perencanaan terpadu wilayah pesisir, dalam artian pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di kawasan pesisir dengan cara melakukan penilaian secara menyeluruh (Comprehensive assessment).  Sorensen & Mc Creary dalam Dahuri 2001
  • Integrated Coastal Management : Pengelolaan wilayah pesisir.
  • Integrated Coastal Resources Management : Pengelolaan terpadu sumber daya wilayah pesisir.

K

  • Komensalisme : Hubungan dua organisme yang menguntungkan satu pihak sedangkan pihak yang lain tidak diuntungkan dan tidak dirugikan.
  • Kompetisi : Merupakan interaksi antarpopulasi, bila antarpopulasi terdapat kepentingan yang sama sehingga dapat terjadi persaingan untuk mendapatkan apa yang diperlukan.
  • Komunitas: Merupakan kumpulan populasi yang menempati suatu daerah pada suatu waktu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain.

L

  • Laut tropis : wilayah laut yang berada di lintang ekuator, lautan yang mendapatkan penyinaran matahari secara terus-menerus sepanjang tahun  hanya memiliki dua musim ,yaitu musim kemarau dan musim hujan.
  • Leaching intrusi : Proses keluarnya nutrien dari suatu ekosistem dengan cara intrusi dari suatu ekosistem tersebut.

M

  • Mangrove : Suatu tipe ekosistem hutan yang tumbuh di suatu daerah pasang surut (pantai, laguna, muara sungai) yang tergenang pasang dan bebas pada saat air laut surut,,  komunitas tumbuhannya mempunyai toleransi terhadap garam (salinity) air laut. Jenisnya yaitu Avicenniaceae (api-api, black mangrove, dll) Combretaceae (teruntum, white mangrove, zaragoza mangrove, dll), Arecaceae (nypa, palem rawa, dll), Rhizophoraceae (bakau, red mangrove, dll), Lythraceae (sonneratia, dll)
  • Materi : segala sesuatu yang memiliki massa dan menempati ruang.
  • Migrasi : Perpindahan suatu organisme menuju tempat lain untuk mempertahankan hidupnya.
  • Mutualisme : Simbiosis yang saling menguntungkan dalam suatu organisme.

N

  • Nitrifikasi : Suatu proses penyusunan senyawa nitrat dari amoniak yang berlangsung secara aerob di dalam tanah.
  • Nursery ground :  Daerah asuhan bagi organisme yang masih kecil atau muda sebelum menjadi dewasa.
  • Nutrien : bahan kimia yang di butuhkan oleh organisme hidup untuk hidup dan tumbuh atau zat untuk metabolisme suatu organisme yang di ambil dari lingkungannya

O

  • Organik : segala sesuatu (zat, materi,) yang berasal dari alam
  • Organisme : Satuan makhluk hidup yang hidup di alam .

P

  • Parasitisme : Hubungan dua organisme yang menguntungkan satu pihak sedangkan pihak yang lain dirugikan.
  • Populasi : Merupakan kumpulan individu sejenis yang menempati suatu wilayah dalam kurun waktu-tertentu yang saling berinteraksi.
  • Predasi : Predator atau pemangsa, kematian yang diakibatkan oleh predator (pemangsa).
  • Produsen primer : autotrof, makhluk hidup yang berperan dalam mengubah materi anorganik menjadi organik, sehingga dapat dimanfaatkan oleh makhluk hidup lain.

R

  • Rantai makanan : suatu jejaring makanan, interaksi antar makhluk hidup di lingkungan (mangsa dimangsa) dan ada aliran materi, energi didalamnya
  • Relung : Peranan organisme dalam suatu habitatnya. Profesi makhluk hidup dalam habitatnya yang menunjukkan fungsi makhluk hidup tersebut. (setiap MH dapat memiliki relung yang sama)

S

  • Sedimentasi : Pengendapan suatu tubuh material padat yang terakumulasi di permukaan bumi atau di dekat permukaan bumi, pada kondisi tekanan dan temperatur yang rendah.
  • Siklus biogeokimia : Merupakan pengertian dari siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik menjadi komponen biotik dan kembali lagi ke dalam komponen abiotik yang berlangsung secara terus menerus.
  • Spawning ground : Daerah pemijahan bagi organisme air untuk melakukan sebagian dari siklus reproduksinya.

W

  • Wilayah pesisir : Merupakan daerah pertemuan antara darat dan laut; ke arah darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin; sedangkan ke arah laut meliputi bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran (Soegiarto, 1976; Dahuri et al, 2001).

Kabupaten Subang merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Barat yang berada di wilayah utara pulau Jawa (pantura). Ekosistem pesisir pantura mewarnai kehidupan masyarakat desa-desa yang berada di sepanjang pantai wilayah kabupaten ini. Kabupaten Subang yang memiliki luas wilayah 205.176,95 ha, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 48/1999 terbagi atas 22 Kecamatan atau 243 Desa dan 8 Kelurahan (Anonim, 2005). Hanya 4 kecamatan yang merupakan kecamatan di wilayah pesisir, yaitu Kecamatan Blanakan (7 desa pesisir), Pamanukan (1 desa pesisir), Legonkulon (5 desa pesisir), dan Pusakanegara (1 desa pesisir).

Peta wilayah Pamanukan, Subang Jawa Barat (dan inset)

Ekosistem mangrove di kawasan pantai utara Jawa (Pantura), khususnya di pesisir Pamanukan Kabupaten Subang dari dulu sampai saat ini telah mengalami banyak perubahan, di mana sesuai dengan fungsi yang disandang adalah sebagai hutan lindung yang berada dalam kawasan hutan negara dan dikelola oleh Perum Perhutani BKPH Ciasem-Pamanukan. Namun pada kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa ekosistem mangrove sudah banyak yang terkonversi menjadi lahan tambak yang diusahakan masyarakat guna memenuhi kebutuhan hidup dengan komoditi utama berupa ikan bandeng dan udang. Dari segi ekologi, jelas ini merupakan penyimpangan yang tidak bisa dibenarkan karena selain menghilangkan sebagian ekosistem mangrove juga telah mengubah ciri fisik rantai makanan yang ada sebelumnya .

Vegetasi utama yang mendominasi ekosistem mangrove di pesisir Pamanukan Subang, Jawa Barat yaitu jenis Avecennia marina. Selain itu terdapat pula jenis Rhizophora mucronata. Adapun karakteristik ekosistem mangrove di wilayah tersebut yaitu berupa substrat lumpur dan genangan air. Seperti tampak pada gambar 1.

Gambar 1

Tidak jauh berbeda, jenis-jenis fauna yang hidup di daerah ekosistem mangrove pada umumnya. Jenis fauna mangrove di daerah Pamanukan pun terdiri dari berbagai macam burung, mamalia, reptil, serangga (fauna darat) dan kepiting , kerang-kerangan (bivalvia), cacing, udang-udangan, ikan-ikan kecil, ikan-ikan besar (fauna air) serta mikroorganisme (detritus) pastinya.

Tingkatan trofik yang terjadi yaitu umumnya dari tingkat produsen primer → konsumen 1 → konsumen 2 → predator → detritus (pengurai). Namun dengan kondisi dan situasi yang berbeda-beda dan dengan adanya keanekaragaman jenis fauna disana, maka rantai makanan tidak selalu sesuai dengan tingkatan trofik diatas. Misalnya, telah terjadi rantai makanan seperti ini :
1. Daun jatuh (mangrove) Detritus
Disini telah terjadi rantai makanan ”produsen primer → pengurai”
2. Daun jatuh (mangrove) udang-udangan ikan kecil burung bangau detritus
Disini telah terjadi rantai makanan ”produsen primer → konsumen 1 → konsumen 2 → predator → pengurai”
Selain rantai makanan diatas, tentunya rantai makanan yang terjadi sangatlah bervariasi. Agar kita dapat lebih memahami berbagai rantai makanan yang terjadi pada ekosistem mangrove, maka kita akan memperjelasnya dengan bagan dibawah ini.

Jika terjadi rantai makanan, maka telah terjadi aliran energi didalamnya. Nutrien-nutrien, unsur hara baik makro (K, Mg, Ca, P, N) dan mikro (Fe, Cu, Mn). Sebagaimana kita ketahui bahwa aliran energi merupakan suatu siklus yang sejalan dengan adanya rantai makanan, siklus ini bisa dikatakan senyawa-senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik lalu kembali lagi ke komponen abiotik.

Pada ekosistem mangrove, nutrien unsur hara makro dan mikro ada yang terserap oleh akar mangrove, ataupun terendapkan dalam lumpur dan terakumulasi atau diserap langsung oleh fauna air. Jika diserap oleh mangrove maka telah terjadi perpindahan energi dari lingkungan ke biotik (mangrove). Selanjutnya mangrove yang mati (daun gugur) dimakan oleh fauna air ataupun darat (konsumen 1) maka pada tahap ini telah terjadi perpindahan baik materi maupun energi ke fauna tersebut, energi ini dimanfaatkanya baik untuk bergerak, tumbuh, bahkan sampai tahap perkembangbiakan. Jika setelah tahap ini terjadi proses makan dimakan lagi maka perpindahan energi pun akan terus berlanjut sampai pada tingkat pengurai. Kemudian aliran energi dan senyawa-senyawa kimia kembali ke lingkungan.

LAMPIRAN GAMBAR
(fauna-fauna yang menempati ekosistem mangrove di pesisir Pamanukan)

REFERENSI

http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-taufikkura-28929

puslitsosekhut.web.id/download.php?page=publikasi⊂=info.

http://ariestio.multiply.com/photos/album/41/FloRa_dAn_FauNa_ManGroVe_

Isu Global Warming
Salah satu isu yang saat ini menjadi sorotan utama didunia ini selain isu persenjataan nuklir, terorisme, dan lain-lain yaitu adanya isu pemanasan global “global warming” atau sering juga disebut efek rumah kaca. Sejak adanya revolusi industri (peralihan penggunaan tenaga manusia menjadi tenaga mesin) di Eropa tidak bisa dibantah bahwa negara-negara lain pun semakin meningkatkan kemampuan teknologinya agar dapat bersaing diantara negara-negara maju. Ini mengakibatkan sektor perindustrian diberbagai negara menjadi sangat naik, seperti di Amerika Serikat, China, dan negara-negara uni Eropa.
Dengan kemajuan teknologi dan informasi yang sangat pesat , berbagai negara sedikit banyak telah menyumbang berbagai jenis gas-gas, zat-zat, polutan. emisi, serta segala apapun yang sifatnya dapat mencemari bahkan merusak atmosfer planet kita ini. Pada kasus pemanasan global, gas pembuangan sisa industri dan transportasi kita ketahui telah menjadi faktor utama penyebabnya.
Dalam bidang industri misalnya, saat ini masih banyak yang menggunakan batu bara sabagai bahan bakar utama yang sisa pembakarannya jelas memiliki kandungan-kandungan berbahaya bagi lapisan ozon bumi. Kemudian pada bidang transportasi penggunaan kendaraan bermotor yang saat ini grafiknya menanjak di hampir semua negara jelas makin memperburuk keadaan atmosfer bumi ini dengan emisi yang dibuangnya (walaupun di berbagai negara maju sudah dianjurkan penggunaan alat transportasi ramah lingkungan) .
Apa Bentuk Partisipasi PBB dalam Mengurangi Efek Rumah Kaca?
PBB telah beberapa kali mengadakan sebuah konvensi atau protokol-protokol yang diselenggarakan di berbagai negara dalam rangka kepedulian terhadap bumi terutama masalah yang menyangkut isu global warming. Sebelum diadakannya protokol Kyoto, PBB sebelumnya telah mengadakan konvensi di Wina (Austria), Rio de Janeiro (Brasil), dan protokol Montreal (Kanada) yang isinya dirancang untuk melindungi lapisan ozon dengan meniadakan produksi sejumlah zat yang sangat berpengaruh besar terhadap berkurangnya atau menipisnya lapisan ozon.

Protokol Kyoto
“Protokol Kyoto adalah sebuah persetujuan sah di mana negara-negara perindustrian akan mengurangi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5,2% dibandingkan dengan tahun 1990 (namun yang perlu diperhatikan adalah, jika dibandingkan dengan perkiraan jumlah emisi pada tahun 2010 tanpa Protokol, target ini berarti pengurangan sebesar 29%). Tujuannya adalah untuk mengurangi rata-rata emisi dari enam gas rumah kaca – karbon dioksida, metan, nitrous oxide, sulfur heksafluorida, HFC, dan PFC – yang dihitung sebagai rata-rata selama masa lima tahun antara 2008-12. Target nasional berkisar dari pengurangan 8% untuk Uni Eropa, 7% untuk AS, 6% untuk Jepang, 0% untuk Rusia, dan penambahan yang diizinkan sebesar 8% untuk Australia dan 10% untuk Islandia.”

( http://id.wikipedia.org/wiki/Protokol_Kyoto)

Protokol Kyoto merupakan salah satu dari banyak Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) , yang mungkin merupakan kelanjutan dari “Pertemuan Bumi” di Rio de Janeiro pada tahun 1992. Protokol ini diadakan di kota Kyoto, Jepang dan ditandatangani pada tanggal 11 Desember 1997. Semua pihak dalam UNFCCC dapat menandatangani atau meratifikasi Protokol Kyoto, sementara pihak luar tidak diperbolehkan.
Buat lebih jelasnya, isi dari protokol Kyoto secara lengkap ada di (http://unfccc.int/resource/docs/convkp/kpeng.html.)

Sejak dimulainya pemberlakuan persetujuan pada bulan Februari 2005, protokol ini sudah diratifikasi oleh 141 negara, yang mewakili 61% dari seluruh emisi menurut protokol ini. Negara-negara tidak perlu menandatangani persetujuan tersebut agar dapat meratifikasinya, penandatanganan hanyalah merupakan aksi simbolis saja. Hingga tanggal 3 Desember 2007, 174 negara telah meratifikasi protokol tersebut, termasuk Kanada, Tiongkok, India, Jepang, Selandia Baru, Rusia, Bulgaria, Rumania, dan 25 negara anggota Uni Eropa Indonesia sendiri sudah mendukung Protokol Kyoto sejak 24 Juni 2004.
Ada hal yang cukup menarik, pada protokol Kyoto ini juga diberlakukan sistem jual beli emisi. Setiap negara-negara industri yang telah menyetujui Protokol Kyoto dapat melakukan jual beli emisi untuk menjual atau membeli batas emisi sesuai Protokol Kyoto. Misalnya saja Rusia yang saat ini memiliki emisi gas rumah kaca masih di bawah kuotanya, bisa saja mengadakan perjanjian untuk menjual ‘emisi’ kepada negara Kanada yang emisinya di atas kuota Protokol Kyoto.

Konflik Dalam Peratifikasian Protokol Kiyoto

Namun ada dua negara yang telah menandatangani namun belum meratifikasi protokol tersebut: yaitu Amerika Serikat (tidak berminat untuk meratifikasi) dan Kazakstan. Ada seorang narasumber (dosen) yang mengatakan bahwa Amerika Serikat memiliki alasan tersendiri mengapa tidak meratifikasinya, mereka membawa nama Inggris sebagai alasannya. Mengapa? Karena pada tahun 1992-1997 memang telah terjadi pengurangan emisi sebesar 10% di daratan Eropa, namun Amerika berpendapat bahwa ini semata-mata diakibatkan bukan karena kesadaran masyarakat Eropa akan pengurangan emisi yang dihasilkannya atau kesadaran dalam menanggulangi masalah global warming. Namun pada era tersebut telah terjadi peristiwa penutupan daerah-daerah tambang di Inggris oleh Ratu Elizabeth pada saat itu. Ini merupakan salah satu kecerdikan Amerika dengan beribu alasannya, mungkin untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan terburuk jika ikut meratifikasi protokol Kyoto mengingat Amerika merupakan negara dengan sektor industri terbesar selain China.

Pada awalnya Amerika, Australia, Italia, Tiongkok, India dan beberapa negara berkembang telah bersatu untuk melawan strategi terhadap adanya kemungkinan Protokol Kyoto II atau persetujuan lainnya yang bersifat mengekang. Namun pada sekitar awal Desember 2007 Australia akhirnya ikut seta meratifikasi protokol Kyoto setelah terjadi pergantian pimpinan di negera tersebut..
Namun meskipun delegasi Amerika tidak menyetujui protokol ini, tidak sedikit warganya yang menentang kebijakan negaranya tersebut misalnya dengan mengkampanyekan dukungan terhadap Protokol Kyoto melalui gerakan untuk mendukung Protokol Kyoto yang dilakukan oleh beberapa universitas terkemuka di Amerika Serikat. Nama gerakan ini yaitu ”Kyoto Now!”.
Konvensi-konvensi yang diadakan di Wina, Rio de Janeiro, Kyoto, Montreal dan yang terbaru di Bali serta Kopenhagen merupakan awal baik dalam menanggulangi masalah global warming, karena ini bukan hanya menyangkut masalah satu atau dua negara saja, namun menyangkut seluruh negara beserta seluruh penduduk dunia. Dengan protokol ini, semoga saja para politisi dan penduduk seluruh dunia akan menyadari pentingnya membuat kesepakatan internasional dan semoga saja planet kita akan semakin baik kedepannya. (ammin) 

Just Remember ! ! !
O N E man ONE three! ! nggak sulit . .Mudah asal ada niat. . .

Sumber :

( http://id.wikipedia.org/wiki/Protokol_Kyoto)

http://unfccc.int/resource/docs/convkp/kpeng.html.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!